Oleh: Dr. Iwan Setiawan M.S.I. (Dosen AIK Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta dan Wakil Ketua PWM DIY)
Penerbit: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UNISA Yogyakarta
KHUTBAH PERTAMA
Pembukaan (Mukaddimah)
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-Hamd.
Jamaah Sholat Idul Adha Yang Dirahmati Allah SWT,
Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada hari yang penuh berkah ini, mari kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ribuan tahun yang lalu, Nabi Ibrahim AS telah memberikan teladan agung berkaitan dengan urusan hambanya dengan Allah SWT. Kisah ketaatan dan keteguhan Nabi Ibrahim AS terbukti tidak hanya berbuah manis untuk akhirat, melainkan juga mendatangkan kenikmatan mendalam bagi urusan dunia, salah satunya adalah kemakmuran Negeri Makkah.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.' Ibrahim berkata: '(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.' Allah berfirman: 'Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zhalim.'" (QS. Al-Baqarah: 124)
Mengenal Sosok Nabi Ibrahim AS
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-Hamd.
Jamaah yang Dirahmati Allah SWT,
Mengutip dari Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, nama "Ibrahim" berasal dari kata Ib (abun berarti bapak) dan Rahim (berarti penyayang), yang bermakna "Bapak yang Penyayang". Beliau berayah Azar dan lahir di Ka'an, Kota Ur, Irak bagian Selatan sekitar 1000 tahun Sebelum Masehi (10 SM), serta wafat pada usia 175 tahun di Hebron, Palestina. Sepanjang hidupnya, beliau dikenal sebagai Abul Anbiya (Bapak Para Nabi). Beliau menikah pada usia 66 tahun, dikaruniai putra bernama Ismail pada usia 86 tahun dari Ibu Hajar, dan putra bernama Ishaq pada usia 100 tahun dari Ibu Sarah. Dalam tradisi Yahudi, beliau juga sangat dihormati dan disebut sebagai "bapak kami Abraham" (Avraham Avinu).
Kehidupan Nabi Ibrahim AS adalah potret kehidupan yang penuh dengan keteguhan, ujian, cobaan, dan godaan. Keteguhan sendiri berarti kuat pendirian, kokoh, tidak mudah goyah, atau mantap dalam sikap dan keyakinan.
Kronologis Perjalanan Hidup & Ujian Nabi Ibrahim AS
Secara ringkas, berikut adalah perjalanan keteguhan hidup Nabi Ibrahim AS:
- Masa Kelahiran & Pencarian Tuhan: Lahir di tengah keluarga pembuat berhala di Ur, Irak, beliau sempat diasingkan di dalam gua sejak bayi karena kebijakan kejam Raja Namrud yang membunuh bayi laki-laki. Saat dewasa, beliau melakukan perenungan mendalam mengamati alam semesta demi menemukan hakikat tauhid dan Tuhan yang sebenarnya.
- Menghancurkan Berhala & Selamat dari Api: Beliau dengan berani menghancurkan berhala-berhala Raja Namrud dan menyisakan yang paling besar. Akibatnya, beliau dihukum dibakar hidup-hidup. Namun atas mukjizat Allah SWT, api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya.
- Masa Hijrah: Beliau berhijrah bersama istrinya (Sarah) dan keponakannya (Luth) meninggalkan Irak menuju wilayah Syam (Suriah, Yordania, Palestina), serta sempat singgah ke Mesir akibat musibah kelaparan.
- Ujian & Kelahiran Keturunan: Setelah sekian lama tidak memiliki keturunan dari Sarah, beliau menikah dengan Hajar. Dari rahim Hajar lahirlah Nabi Ismail AS, dan beberapa tahun setelahnya, Sarah pun melahirkan Nabi Ishaq AS.
- Membangun Ka'bah: Atas perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail membangun Ka'bah di Makkah (Bakkah) sebagai pusat ibadah dan kiblat bagi umat manusia.
- Perintah Menyembelih Anak: Ujian puncak datang ketika Allah memberi perintah lewat mimpi untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail AS. Karena ketakwaan dan ketaatan yang luar biasa dari ayah dan anak, Allah SWT mengganti Ismail dengan seekor domba jantan, yang menjadi cikal bakal ibadah kurban kita hari ini.
Ajaran-ajaran dan syariat Allah yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS bukan hanya untuk dirinya atau generasi sezamannya saja, melainkan diwariskan untuk seluruh generasi umat manusia hingga akhir zaman. Sebagaimana firman Allah SWT:
وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): 'Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.'" (QS. Al-Baqarah: 132)
KHUTBAH KEDUA
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-Hamd.
Jamaah Shalat Idul Adha yang Dirahmati Allah SWT,
Akhir dari keteguhan iman Nabi Ibrahim AS membuktikan sebuah kebenaran universal: bahwa setiap buah perbuatan yang baik pasti akan dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Berkah keteguhan beliau tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, melainkan mengalir kepada keluarga dan seluruh umatnya.
Ingatlah doa tulus yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim AS yang diabadikan dalam Al-Qur'an:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, "Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir." Dia (Allah) berfirman, "Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali." (QS. Al-Baqarah: 126)
Empat Pelajaran Utama (Khulasah)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-Hamd. Jamaah Shalat Idul Adha yang Berbahagia,
Segala sesuatunya akan terasa "Indah pada Waktunya". Sebagai bekal kehidupan kita, mari kita petik 4 pelajaran utama dari keteguhan perjalanan hidup Nabi Ibrahim AS:
- Ketaatan Tanpa Ragu: Selalu mendahulukan perintah Allah di atas segalanya, seperti saat ikhlas meninggalkan anak-istri di lembah tandus Makkah hingga kesiapannya menyembelih Ismail.
- Keberaninan Berlogika: Menggunakan akal sehat secara rasional untuk membuktikan kebatilan penyembahan berhala serta mengajak umatnya melihat fenomena alam sebagai bagian dari Sunatullah.
- Kesabaran yang Luar Biasa: Menghadapi penolakan keras dari ayah kandungnya sendiri serta kekejaman Raja Namrud dengan sikap yang tetap santun, sabar, dan penuh doa.
- Membangun Keluarga Tangguh (Sakinah): Keteladanan iman Nabi Ibrahim ditopang penuh oleh keimanan hebat dari keluarganya (Siti Hajar dan Nabi Ismail), mengajarkan kita bahwa pengorbanan yang dilakukan bersama-sama dalam keluarga demi Allah akan membuahkan keberkahan luar biasa.
Penutup & Doa
Marilah kita akhiri khutbah ini dengan memohon ampunan, bershalawat, dan berdoa kepada Allah SWT.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ