YOGYAKARTA – Suasana peringatan malam Nuzulul Qur’an di Masjid Siti Walidah Dahlan, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, berlangsung hangat dan penuh ilmu. Menghadirkan pemateri Dr. Iwan Setiawan, S.Ag., M.Si., jamaah diajak menyelami kembali peristiwa turunnya wahyu pertama serta bagaimana Al-Qur’an mengubah tatanan masyarakat dari kegelapan jahiliah menuju peradaban yang berilmu.

Revolusi Literasi dari Masyarakat “Ummi”

Dalam ceramahnya, Dr. Iwan Setiawan mengutip Surah Al-Jumu’ah ayat 2 untuk menjelaskan sosok Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai Nabi yang diutus di tengah kaum ummi (buta huruf). Mengutip tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, beliau menjelaskan bahwa meski bangsa Arab saat itu tidak bisa membaca dan menulis, mereka memiliki kekuatan hafalan yang luar biasa.

“Turunnya perintah Iqra (bacalah) di Gua Hira menjadi titik balik peradaban. Al-Qur’an mewajibkan orang Arab—dan seluruh umat Islam—untuk membaca, menulis, dan belajar. Ini adalah revolusi literasi yang nyata,” ujar Dr. Iwan di hadapan jamaah malam ke-17 Ramadhan 1447 H tersebut.

Al-Qur’an: Pembebas Kaum Perempuan dan Budak

Dr. Iwan juga menyoroti bagaimana Al-Qur’an secara radikal mengubah status sosial manusia. Sebelum Islam datang, posisi perempuan di tanah Arab sangat memprihatinkan, bahkan bayi perempuan sering kali dibunuh karena dianggap aib.

“Jika dulu ada istilah suargo nunut neroko katut, Islam datang membawa keadilan. Di dalam Al-Qur’an, laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama di hadapan Allah untuk meraih surga melalui iman dan amal saleh,” tegas beliau. Selain itu, beliau menambahkan bahwa Al-Qur’an menjadi motor penggerak penghapusan perbudakan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang sesuai dengan fitrah.

Menjaga Keaslian dan Mengamalkan Isi

Menutup tausiyahnya, Dr. Iwan Setiawan mengingatkan jamaah mengenai tiga tugas utama umat Muslim terhadap Al-Qur’an di masa kini:

  1. Mempelajari: Tidak hanya membaca, tetapi mendalami maknanya melalui pendidikan.
  2. Memelihara: Mendukung generasi penghafal Al-Qur’an (Hafiz) sebagai wasilah Allah menjaga kemurnian kitab suci.
  3. Mengamalkan: Menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai panduan perilaku sehari-hari.

“Di sisa bulan Ramadhan ini, mari kita mempertebal ibadah dan memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Semoga momentum Nuzulul Qur’an ini menjadi bahan muhasabah agar kita terus hidup di bawah cahaya wahyu,” pungkas beliau yang diiringi ucapan amin oleh para jamaah.

Peringatan Nuzulul Qur’an di UNISA tahun ini pun ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan agar seluruh jamaah dipertemukan kembali dengan Ramadhan-Ramadhan berikutnya dalam keadaan iman yang lebih kuat.