YOGYAKARTA – Rangkaian Kuliah Ramadan di Masjid Walidah Dahlan, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta memasuki hari ketiga dengan menghadirkan Dr. Adib Sofia, S.S., M.Hum. sebagai pembicara. Dalam tausiyahnya, pakar bahasa dan sastra ini menyoroti pentingnya peran komunikasi islami dalam membangun budaya damai di tengah masyarakat yang majemuk.

Memahami Perbedaan “Storage of Mind”

Dr. Adib Sofia mengawali paparannya dengan menjelaskan konsep storage of mind atau gudang pemikiran manusia. Menurutnya, setiap individu memiliki latar belakang sejarah, tradisi, dan informasi yang berbeda-beda, sehingga potensi perbedaan pendapat dan konflik selalu ada.

“Potensi perpecahan dan sikap intoleran muncul ketika seseorang menganggap dirinya paling benar dan memandang pihak lain sebagai sosok yang aneh (strange), menganggapnya sebagai ‘yang lain’ (the other), meminggirkannya sebagai orang luar (outsider), atau merasa orang lain tidak layak (less worthy),” ungkap Dr. Adib.

Teknik Komunikasi “Bil Hikmah”

Sebagai solusi atas potensi konflik tersebut, Islam telah memberikan panduan melalui Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 125. Dr. Adib menekankan bahwa menyampaikan kebaikan harus dilakukan dengan bil hikmah (kebijaksanaan) dan mauidzah hasanah (nasihat yang baik).

Dalam perspektif sosiolinguistik, ia merumuskan indikator kebijaksanaan dalam berbicara melalui empat poin penting:

  1. Who speak: Menyadari kapasitas diri saat berbicara.
  2. What language: Memilih diksi atau pilihan kata yang tepat.
  3. To whom: Mempertimbangkan siapa lawan bicara (anak-anak, lansia, atau mahasiswa).
  4. When: Memperhatikan waktu dan situasi yang tepat.

“Berbicara itu jangan seperti kentut; yang penting lega mengeluarkan unek-unek tanpa peduli orang lain sakit hati atau stres. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk berbicara yang balighan, yakni kata-kata yang membekas dan enak diterima di hati lawan bicara,” tegasnya.

Metode “Trilala” dan Rumus “Basama Malaka”

Lebih lanjut, Dr. Adib memperkenalkan metode “Trilala” yang merujuk pada tiga larangan dalam Surah Al-Hujurat ayat 11 untuk menjaga kedamaian:

  • La yaskhor: Jangan merendahkan orang lain.
  • La talmizu: Jangan saling mencela.
  • La tanabazu: Jangan memanggil dengan sebutan yang buruk.

Untuk memudahkan jamaah mengingat adab berkomunikasi, ia merumuskan enam jenis perkataan dalam Al-Qur’an menjadi jembatan keledai “Basama Malaka”:

  1. Balighan: Komunikasi yang menyentuh hati.
  2. Sadidan: Perkataan yang benar, jujur, dan anti-hoaks.
  3. Ma’rufan: Perkataan yang baik dan bermanfaat.
  4. Maisuran: Perkataan yang pantas dan memberikan rasa optimis.
  5. Layyinan: Tutur kata yang lemah lembut.
  6. Kariman: Perkataan yang mulia.

Pesan untuk Menjaga Kualitas Pikiran

Mengakhiri kultumnya, Dr. Adib Sofia mengingatkan bahwa apa yang keluar dari lisan seseorang sangat bergantung pada apa yang dimasukkan ke dalam pikirannya.

“Jika yang kita masukkan ke kepala adalah hal-hal yang baik, saleh, dan bermanfaat, maka yang keluar melalui lisan adalah tutur kata yang mulia (kariman). Mari kita jaga ‘stok’ di kepala kita agar lisan kita senantiasa mendatangkan manfaat bagi semua orang,” pungkasnya.