YOGYAKARTA – Suasana malam ke-Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Siti Walidah, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, terasa begitu khidmat saat Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN. Eng. menaiki mimbar. Dalam ceramahnya, pakar ilmu tanah ini membedah asal-usul penciptaan manusia dari kacamata Al-Qur’an yang disinergikan dengan sains, sembari memberikan peringatan keras mengenai ancaman teknologi terhadap peradaban.

Siklus Kehidupan: Dari Tanah Kembali ke Tanah

Mengawali ceramahnya, Prof. Gunawan mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an, termasuk Surah Al-Mu’minun ayat 12, tentang penciptaan manusia dari sari pati tanah (sulalatin min thin). Beliau menjelaskan secara saintifik bahwa tubuh manusia sejatinya adalah kumpulan mineral seperti kalsium, magnesium, dan besi yang semuanya berasal dari tanah.

“Manusia itu berasal dari tanah karena kita makan tanaman. Tanaman menyerap sari pati tanah, menjadi buah dan biji yang kita konsumsi. Secara biologis dan spiritual, kita adalah bagian dari siklus tanah. Maka, sudah sewajarnya manusia kembali ke tanah dengan penuh kerendahan hati,” jelas beliau di hadapan ratusan jamaah salat tarawih.

Krisis Pertanian dan Ancaman Otomatisasi

Sebagai akademisi yang bergelut di dunia pertanian, Prof. Gunawan menyatakan keprihatinannya terhadap fenomena anak muda zaman sekarang yang mulai meninggalkan sektor agraria. Beliau menyoroti bagaimana ketergantungan pada impor pangan dapat memperlemah bangsa.

Kondisi ini, menurutnya, memicu lahirnya era Smart Farming dan Artificial Intelligence (AI). Meski teknologi seperti drone penyiram tanaman hadir sebagai solusi atas kurangnya tenaga kerja, beliau mengingatkan adanya risiko besar yang mengintai: hilangnya nilai-nilai kemanusiaan.

Peringatan Einstein dan Realitas Digital Masa Kini

Prof. Gunawan mengutip kekhawatiran Albert Einstein bahwa suatu saat teknologi akan melampaui interaksi manusia. Beliau menyentil fenomena sosial di mana anggota keluarga lebih sibuk memeluk ponsel daripada berinteraksi dengan orang tercinta.

“Bangun tidur, bukannya istri atau anak yang disapa, tapi handphone yang dicari. TV menyala menonton manusia yang asyik dengan dunianya sendiri. Ini adalah proses pembunuhan kecerdasan dan karakter yang nyata,” tegasnya.

Beliau juga menyoroti dampak negatif gadget pada kualitas intelektual generasi muda. Beliau mencontohkan bagaimana pengetahuan umum dasar siswa sekolah menengah kini menurun drastis akibat ketergantungan pada teknologi tanpa filter literasi yang kuat.

Pesan untuk Orang Tua

Menutup ceramahnya, Prof. Gunawan mengajak para orang tua untuk mengambil peran utama dalam mengendalikan penggunaan teknologi pada anak. Beliau mencontohkan negara maju seperti Swedia dan Jerman yang mulai memperketat aturan penggunaan ponsel bagi anak di bawah umur.

“Hanya orang tua yang bisa mengendalikan karakter anak yang mulai tergerus media sosial, bukan sekadar guru di sekolah. Ini adalah PR besar kita bersama agar kemajuan teknologi tidak menghapus jati diri kita sebagai makhluk yang beradab,” pungkasnya.