YOGYAKARTA – Masjid Siti Walidah UNISA Yogyakarta kembali menjadi ruang diskusi intelektual yang hangat pada rangkaian tarawih Ramadan 1447 H. Kali ini, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Fathul Wahid, ST., M.Sc., Ph.D., membawakan tema yang sangat relevan dengan zaman now: “Otoritas Algoritmik: Tantangan Beragama di Era Akal Imitasi (AI)”.

Analogi Kalkulator: Antara Alat Bantu dan Pembajakan Tujuan

Membuka ceramahnya dengan cara yang sederhana, Prof. Fathul memberikan analogi penggunaan kalkulator. Beliau menjelaskan bahwa jika anak kelas 2 SD menggunakan kalkulator untuk belajar matematika dasar, maka alat tersebut telah “membajak” tujuan pembelajaran. Namun, jika digunakan oleh pedagang sembako untuk mempercepat transaksi, kalkulator menjadi alat yang mendorong pencapaian tujuan.

“Begitu juga dengan Artificial Intelligence (AI). Jika AI digunakan dan itu membajak tujuan (pencarian kebenaran), maka jangan digunakan. Tapi jika mendorong pencapaian tujuan dan kita punya kapasitas untuk memverifikasinya, silakan,” tegas Prof. Fathul.

Mbah Google Bukan Otoritas Agama

Prof. Fathul menyoroti pergeseran budaya di mana masyarakat kini lebih sering bertanya soal hukum agama kepada mesin pencari atau AI daripada kepada ulama atau pesantren. Bahayanya, algoritma digital tidak bekerja berdasarkan “mana yang benar”, melainkan berdasarkan “mana yang viral”.

“Algoritma membaca apa yang banyak diklik, dikomentari, dan yang sensasional. Ceramah yang penuh emosi dan menyalahkan orang lain lebih cepat viral daripada ceramah yang penuh dalil dan hati-hati. Padahal, yang viral belum tentu benar,” tambahnya.

Ancaman Ilmu Instan dan Polarisasi

Beliau merangkum setidaknya ada tiga tantangan besar beragama di era digital:

  1. Ilmu Serba Instan: Masyarakat cenderung hanya menonton potongan video pendek (TikTok/Reels) yang sering kali kehilangan konteks utuhnya, namun langsung dijadikan basis rujukan fatwa.
  2. Polarisasi “Minna wa Minhum”: Algoritma menciptakan filter bubble yang hanya menyuguhkan informasi yang kita sukai, sehingga memicu rasa paling benar sendiri dan pengelompokan “kelompok kami vs kelompok mereka”.
  3. Bias Konfirmasi: Informasi yang salah namun muncul berulang kali di layar ponsel cenderung lebih mudah dipercayai daripada informasi benar yang hanya muncul sekali.

Sikap Bijak: AI Sebagai Kompas, Bukan Penentu Arah

Sebagai penutup, Prof. Fathul memberikan panduan bagi jamaah agar tidak dikendalikan oleh algoritma:

  • Teknologi sebagai Alat Bantu: Posisikan AI seperti kompas; ia menunjukkan arah, tetapi perjalanan hidup tetap kita yang kendalikan.
  • Jaga Sanad Keilmuan: Kehadiran fisik atau virtual dalam majelis ilmu bersama otoritas kiai dan ustaz tetap tidak tergantikan oleh mesin.
  • Budaya Tabayun: Jangan merasa “amanah” untuk langsung menyebarkan informasi (forward) jika belum terverifikasi kebenarannya.
  • Hindari FOMO: Jangan takut ketinggalan tren atau menjadi yang terakhir menyebarkan berita jika isinya belum pasti.

“Gunakan alat digital, tapi jangan biarkan sanad keilmuan dan tabayun hilang. Pastikan hidup kita kita kendalikan sendiri, bukan dikendalikan oleh algoritma,” pungkas beliau mengakhiri ceramahnya.