YOGYAKARTA – Memasuki separuh kedua bulan suci Ramadhan 1447 H, suasana Masjid Siti Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta diselimuti kekhusyukan saat Dra. Ummu Hani, EN, M.Kes., menyampaikan tausiyahnya. Di hadapan jamaah salat tarawih, pensiunan dosen UNISA yang telah mengabdi selama 37 tahun ini mengajak jamaah merenungkan kembali makna kebahagiaan yang sesungguhnya melalui tema “Berbahagia dalam Menghidupi Agama”.

Bahagia yang Melampaui Harta dan Takhta

Dalam paparannya, Dra. Ummu Hani menekankan bahwa kebahagiaan seringkali disalahartikan sebatas kepemilikan harta yang berlimpah, jabatan tinggi, atau gelar akademik yang berderet. Namun, menurut perspektif Islam, semua itu hanyalah kebahagiaan semu yang bersifat sementara.

“Kebahagiaan sejati adalah ketenangan hati dan ketentraman jiwa yang puncaknya hanya bisa dicapai dengan keimanan yang kokoh,” ujar sosok yang kini menjadi Pembina di UNISA tersebut. Beliau mengutip Surah Ar-Ra’d ayat 28, menegaskan bahwa hanya dengan mengingat Allah (dzikrullah), hati akan menjadi tentram.

Keseimbangan Hablum Minallah dan Hablum Minannas

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa untuk “menghidupi agama”, seseorang harus menjaga keseimbangan hidup (tawazun). Beragama tidak berarti hanya berdiam diri di masjid untuk berzikir, tetapi juga harus aktif menebar manfaat bagi sesama manusia.

“Jangan hanya berzikir, tapi tidak bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan bersedekah. Praktik hidup seimbang antara zikir, kerja, dan sosial adalah kunci,” tambahnya. Beliau juga mengingatkan pentingnya sikap qonaah (merasa cukup) agar manusia tidak terjebak dalam keserakahan yang seringkali berujung pada kehinaan, seperti fenomena pemimpin yang terjerat kasus korupsi.

Resep Kebahagiaan: Sabar, Syukur, dan Ikhlas

Dra. Ummu Hani membagikan beberapa langkah praktis bagi jamaah untuk bisa “bergembira” dalam mengamalkan ajaran agama:

  1. Selalu Berzikir: Menjadikan ibadah sebagai kebutuhan, bukan beban.
  2. Bersyukur dan Qonaah: Menjauhkan diri dari sifat serakah dan menghargai setiap nikmat, sekecil apa pun.
  3. Sabar dan Rida: Menghadapi setiap ujian hidup, baik suka maupun duka, dengan kelapangan dada sebagaimana pesan dalam Surah Al-Baqarah ayat 153.

Tujuan Akhir: Ridha Allah

Menutup ceramahnya pada malam ke-16 tersebut, beliau mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat “mampir minum” yang sangat singkat jika dibandingkan dengan akhirat. Kebahagiaan yang dicari setiap muslim seharusnya tidak berhenti di dunia saja, melainkan keselamatan dari siksa api neraka dan pencapaian kebahagiaan di akhirat.

“Tidak ada kepuasan yang hakiki kecuali mendapatkan keridaan Allah. Inilah tujuan dari doa yang setiap hari kita panjatkan, Rabbana atina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah,” pungkasnya dengan penuh haru.

Kehadiran Dra. Ummu Hani malam itu memberikan kesan mendalam bagi jamaah, terutama saat beliau memperkenalkan diri sebagai bagian dari sejarah panjang UNISA, yang meski sudah berkepala tujuh, tetap semangat dalam “menggembirakan agama” melalui masjid kampus tersebut.