YOGYAKARTA – Memasuki hari kedua Ramadan, suasana khidmat menyelimuti Masjid Walidah Dahlan, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Dalam kesempatan kultum tersebut, hadir sebagai pembicara Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., yang memaparkan refleksi sejarah mengenai akar perjuangan gerakan perempuan modern di Indonesia, khususnya ‘Aisyiyah.
Menelusuri Jejak Muktamar 1930 di Fort de Kock
Mengawali ceramahnya, Prof. Nurmandi mengulas sebuah buku baru terbitan UGM Press mengenai dinamika Muktamar Muhammadiyah ke-19 tahun 1930 di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi). Ia menekankan betapa besarnya tantangan dakwah pada masa itu, di mana Muhammadiyah sebagai organisasi pembaru berupaya masuk ke wilayah Minangkabau yang saat itu didominasi oleh pengaruh kaum tradisional.
“Perjuangan Haji Rasul, ayah dari Buya Hamka, sangat luar biasa dalam mendirikan Muhammadiyah di sana hingga beliau harus berpindah-pindah kota. Muktamar itu adalah yang pertama kalinya diadakan di luar Jawa dengan tantangan logistik yang tak terbayangkan; para pimpinan pusat harus menempuh perjalanan laut selama empat hari dari Tanjung Priok ke Padang,” ujar Prof. Nurmandi.
Dinamika Peran Publik Perempuan
Satu poin krusial yang diangkat adalah perdebatan mengenai peran perempuan di ruang publik pada masa itu. Pada tahun 1930-an, keterlibatan perempuan dalam berpidato di depan umum masih menjadi hal yang kontroversial.
“Pada waktu itu, tokoh ‘Aisyiyah seperti Siti Moenjiah tidak diperkenankan berpidato di depan umum atau jamaah laki-laki. Akhirnya, melalui jalan tengah, diputuskan bahwa pidato hanya dilakukan di lingkungan internal Muktamar ‘Aisyiyah guna menghindari gesekan dengan ulama tradisional,” jelasnya.
Momentum inilah yang kemudian menjadi titik balik bagi ‘Aisyiyah untuk bergerak secara mandiri dan profesional sebagai organisasi perempuan modern yang terorganisir.
‘Aisyiyah: Dari Perjuangan Menuju Peradaban
Prof. Nurmandi mengajak jamaah, khususnya mahasiswa dan generasi muda, untuk menyadari bahwa kemegahan Masjid Walidah Dahlan dan eksistensi UNISA saat ini adalah buah dari perjuangan panjang sejak 100 tahun yang lalu.
Menurutnya, keberhasilan ‘Aisyiyah dalam mengelola sembilan universitas di Indonesia adalah bukti nyata bahwa perempuan mampu membangun peradaban yang rapi, indah, dan berlandaskan ilmu pengetahuan.
“Kita saat ini salat di masjid yang megah, rapi, dan indah yang dikelola oleh perempuan. Ini adalah pelajaran bagi generasi muda bahwa perempuan Indonesia melalui ‘Aisyiyah telah membuktikan kemampuannya membangun lembaga pengetahuan yang menghamba kepada Tuhan,” tambahnya.
Pesan untuk Generasi Muda
Menutup kultumnya, Prof. Nurmandi memberikan pesan mendalam tentang etos kerja para pejuang terdahulu. Ia membandingkan fasilitas transportasi masa kini yang serba mudah dengan masa lalu yang penuh keterbatasan fisik.
“Silakan baca sejarah tersebut. Sangat menarik melihat bagaimana pejuang kita dulu mengelola organisasi luar biasa tanpa fasilitas pesawat, hanya kapal laut. Semoga semangat mereka menjadi inspirasi bagi kita dalam menjalankan ibadah dan pengabdian,” pungkasnya.