YOGYAKARTA – Masjid Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali menghadirkan perspektif mencerahkan dalam rangkaian Kuliah Ramadan. Kali ini, Prof. Dr. Mufdlillah, S.SiT., M.Sc. memaparkan materi bertajuk “Kesalehan Reproduksi: Merawat Tubuh Perempuan sebagai Amanah”. Dalam tausiyahnya, ia menekankan bahwa menjaga kesehatan reproduksi bukan sekadar urusan medis, melainkan bagian dari ketakwaan kepada Allah SWT.
Tubuh Manusia: Bentuk Sempurna dan Ruang Ibadah
Mengutip Surah At-Tin ayat 4, Prof. Mufdlillah mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (fi ahsani takwim). Baginya, kesempurnaan ini menuntut tanggung jawab besar, terutama bagi perempuan yang dianugerahi fungsi reproduksi yang mulia seperti mengandung, melahirkan, dan menyusui.
“Islam adalah agama yang sangat memuliakan tubuh. Tubuh bukan sekadar jasad fisik, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Dalam konteks perempuan, tubuh adalah ruang ibadah dan ruang kehidupan yang harus senantiasa dijaga martabatnya,” jelas Prof. Mufdlillah.
Melawan Stigma dan Urusan Tabu
Prof. Mufdlillah menyoroti berbagai isu kontemporer yang masih menjadi tantangan, mulai dari pernikahan anak, kehamilan remaja, hingga kekerasan seksual. Menurutnya, dalam perspektif Muhammadiyah, kesehatan reproduksi bukanlah hal tabu, melainkan kewajiban syar’i.
“Ikhtiar medis yang rasional dan ilmiah adalah bagian dari amal saleh. Kesalehan dalam Islam tidak hanya diukur dari ritual seperti salat dan puasa, tetapi juga dari kesalehan biologis—bagaimana kita menjaga fungsi kehidupan dan tidak menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan,” tegasnya merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 195.
Hak Tubuh dan Peran Keluarga
Merujuk pada sabda Rasulullah SAW bahwa “Tubuhmu memiliki hak atasmu”, Prof. Mufdlillah merinci hak-hak reproduksi perempuan yang harus dipenuhi, antara lain:
- Hak Informasi dan Edukasi: Mendapatkan pengetahuan kesehatan yang memadai.
- Hak Perlindungan: Terbebas dari praktik yang membahayakan tubuh dan eksploitasi.
- Hak Pendampingan: Dukungan empati bagi ibu hamil dan menyusui.
Ia juga memberikan pesan khusus kepada para suami. Menjaga kesehatan istri dan menghormati keputusan medis yang bertanggung jawab merupakan wujud kesalehan seorang laki-laki. “Jangan menormalisasikan rasa sakit yang diderita perempuan. Memberikan waktu istirahat dan pemulihan bagi istri adalah bagian dari menjalankan amanah Allah,” tambahnya.
Spirit Ramadan: Keringanan dan Keikhlasan
Di pengujung kultum, Prof. Mufdlillah mengingatkan bahwa Islam sangat inklusif dengan memberikan rukhsah (keringanan) bagi perempuan yang sedang menstruasi, hamil, atau menyusui selama bulan Ramadan.
“Allah tidak menilai keimanan seseorang dari kemampuan fisiknya semata, melainkan dari niat dan kesungguhannya dalam menjaga amanah. Ramadan adalah momentum untuk menguatkan pengendalian diri, termasuk berhenti mengabaikan kesehatan perempuan,” pungkasnya.