YOGYAKARTA – Masjid Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menghadirkan tokoh nasional sekaligus pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. M. Busyro Muqoddas, S.H., dalam rangkaian Kuliah Ramadan. Dalam tausiyahnya, mantan Ketua KPK tersebut menyoroti pentingnya kesalehan publik dan kesadaran politik sebagai buah dari ketauhidan yang benar.
Tauhid Bukan Sekadar Keyakinan, Tapi Amalan Sosial
Dr. Busyro mengawali paparannya dengan menjelaskan bahwa Islam adalah agama tauhid. Namun, tauhid tidak boleh berhenti pada keyakinan di dalam hati saja. Menurutnya, tauhid harus termanifestasikan dalam bentuk kepedulian terhadap ciptaan Allah, baik alam semesta maupun tatanan sosial masyarakat.
“Keyakinan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah harus dibuktikan dengan mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Perintah tersebut pasti membawa manfaat, sementara larangan-Nya dibuat agar manusia tidak mengalami kerugian,” jelas Dr. Busyro.
Politik dan Bahaya “Pemimpin Lintah”
Dalam konteks kehidupan bernegara, Dr. Busyro menekankan bahwa setiap individu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban. Ia mengingatkan jemaah agar melek politik—memahami hubungan negara dengan rakyat—agar tidak menjadi korban kebohongan politik yang rutin terjadi setiap lima tahun sekali.
Ia memberikan perumpamaan melalui fenomena lintah. “Lintah yang kecil saja bisa membawa manfaat dengan menyedot darah kotor pasien diabetes. Sebaliknya, manusia yang diciptakan dalam bentuk paling sempurna (ahsani taqwim), jika tidak saleh dan mendapatkan jabatan melalui suap, justru bisa menjadi perusak,” tegasnya.
Dr. Busyro mengkritisi fenomena politik uang (suap) dalam Pemilu dan Pilkada yang menurutnya merusak tatanan bangsa. “Pemimpin yang lahir dari proses suap-menyuap bukanlah pemimpin yang saleh. Pemimpin saleh adalah mereka yang mengamalkan ajaran agama dengan jujur, ikhlas, dan memiliki kesalehan sosial untuk sesama,” tambahnya.
Meneladani Jenderal Sudirman: Kader Muhammadiyah untuk Bangsa
Sebagai solusi jangka panjang, Dr. Busyro mengajak para orang tua untuk fokus mendidik generasi muda dengan fondasi agama yang kuat sejak dini. Ia mencontohkan sosok Panglima Besar Jenderal Sudirman sebagai prototipe pemimpin yang lahir dari rahim pendidikan agama dan organisasi Muhammadiyah (Hizbul Wathan).
“Sudirman adalah kader Muhammadiyah yang saleh secara pribadi dan sosial. TNI berdiri atas rintisan beliau. Kita perlu mendidik ‘Sudirman-Sudirman’ baru di berbagai bidang yang memiliki dasar ilmu agama kuat namun ahli di bidang ilmu umum,” tuturnya.
Pesan Ramadan: Iktikaf dan Pendidikan Anak
Menutup kultumnya, Dr. Busyro memberikan dua pesan penting bagi jemaah di sisa bulan Ramadan:
- Menguatkan Ibadah: Mengajak jemaah menjaga kesehatan agar bisa melaksanakan iktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan.
- Pendidikan Berbasis Masjid: Mengapresiasi orang tua yang membawa anak-anak ke masjid. “Jangan marahi anak-anak yang lari-lari di masjid. Sabarlah mendidik mereka karena dari sanalah benih kesalehan itu tumbuh,” pungkasnya.