YOGYAKARTA – Masjid Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali menggelar Kuliah Ramadan pada malam ketujuh. Menghadirkan Dr. Nur Kholis, S.Ag., M.Ag., yang hadir mewakili Rektor UAD, Prof. Dr. Muchlas, MT., ceramah kali ini mengangkat isu krusial mengenai tantangan mendidik Generasi Alfa di era digital yang kian menantang.
Media Sosial sebagai “Bara Api” Modern
Membuka tausiyahnya, Dr. Nur Kholis mengajak jamaah merefleksikan Surah At-Tahrim ayat 6: “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Ia menganalogikan media sosial sebagai “bara api” zaman sekarang yang masuk ke rumah-rumah melalui layar kecil berukuran 6 inci.
“Dulu setan berbisik lewat telinga, sekarang setan punya tim marketing berupa algoritma dan data sains. Generasi Alfa, yaitu anak-anak yang lahir setelah tahun 2010, adalah generasi genggaman. Mereka bahkan hafal ikon YouTube sebelum hafal wajah tetangganya,” ujar Dr. Nur Kholis.
Ancaman Dopamin dan Krisis Adab
Dr. Nur Kholis menjelaskan bahwa kecanduan konten video pendek pada anak memicu hormon dopamin secara instan, yang efeknya di otak serupa dengan kecanduan narkoba. Hal ini mengakibatkan anak gampang bosan, malas berpikir, rendah diri karena standar hidup semu di media sosial, hingga lunturnya adab kepada orang tua.
Namun, ia juga menekankan bahwa Generasi Alfa memiliki potensi luar biasa. “Ibarat pisau, mereka sangat cepat belajar, kreatif, dan peduli pada isu global. Tugas kita adalah menambal kekurangan mereka yang rentan stres dan kurang empati,” tambahnya.
Strategi Menyelamatkan Keluarga dari Fitnah Digital
Sebagai solusi praktis, Dr. Nur Kholis menawarkan empat strategi bagi orang tua untuk membentengi anak:
- Menjadi Filter, Bukan Penghalang: Orang tua tidak boleh hanya menuduh atau menceramahi dengan wajah galak. Masuklah ke dunia mereka, duduk di sampingnya, dan jadilah teman diskusi tentang apa yang mereka tonton.
- Sediakan Pengganti Alternatif: Jangan hanya melarang main HP tanpa memberikan aktivitas pengganti yang menarik, karena anak akan mencari jalan keluarnya sendiri.
- Batasan Tegas dan Konsisten: Buat aturan “Jam Bebas HP” (misal: Magrib hingga Isya) dan “Zona Bebas HP” seperti di meja makan untuk membangun kembali komunikasi hangat antaranggota keluarga.
- Menjadi Teladan (Uswah Hasanah): Ini adalah poin terberat. Anak belajar dari apa yang dilihat, bukan apa yang didengar. “Jangan berharap anak ahli Al-Qur’an jika orang tuanya sendiri jarang menyentuh Al-Qur’an dan asyik main HP saat diajak bicara,” tegasnya.
Doa sebagai Senjata Terakhir
Menutup kultumnya, Dr. Nur Kholis mengingatkan bahwa orang tua adalah garda terdepan sekaligus imam yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Ia berpesan agar orang tua tidak lelah melangitkan doa di setiap sujud.
“Dampingi mereka, jangan ditinggal. Langitkan doa agar Allah menyelamatkan anak-anak kita dari fitnah zaman ini dan menjadikan mereka penjaga agama, bukan perusak agama,” ucap beliau.