Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UNISA Yogyakarta

TEKS KHUTBAH ‘IDUL ADHA

EPISODE KETELADANAN NABI IBRAHIM A.S.

IWAN SETIAWAN., M.S.I.

Dosen AIK Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ  يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَمُضِلَ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ اِلآّ اَللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُهَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٌ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. اَمَا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

Allah berfirman:

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنٗا وَٱرۡزُقۡ أَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُم بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ

Dan (ingatlah), ketika Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.(Q.S Al Baqarah 2:126)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-Hamd.

Jamaah Sholat Idul Adha Yang Dirahmati Allah SWT…..

Ribuan tahun yang lalu Nabi Ibrahim AS telah memberikan tauladan berkaitan dengan urusan manusia dengan tuhannya, urusan hamba dengan Allah SWT. Bagaimana kisah ketaatan Nabi Ibrahim AS berbuah kenikmatan kepada urusan dunia. Negeri Makkah yang diberi kenikmatan oleh Allah SWT. Tentu kalau kita mengikuti perjalanan hidup Nabi Ibrahim AS dapat kita melihat bagaimana ketaatan kepada Allah SWT berbuah nikmat dalam urusan dunia dan akhirat. Dalam peristiwa Idul Adha ini, pemeran utama adalah keluarga Nabi Ibrahim AS, terdiri dari Ibrahim AS, Sarah, Hajar dan Nabi Ismail AS

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-Hamd.

Jamaah Sholat Idul Adha Yang Dirahmati Allah SWT…..

Nabi Ibrahim AS adalah suri tauladan abadi. Ketundukannya kepada Allah SWT dan ketaatannya mengikuti nilai dan tata aturan ilahiah selalu menjadi contoh yang hidup sepanjang masa. “Ketika Allah berfirman kepadanya, “Tunduk patuhlah (Islamlah),” maka ia tidak pernah menunda-nundanya walau sesaat, tidak pernah terbetik rasa keraguan sedikit pun, apa lagi menyimpang. Ia menerima perintah itu dengan seketika dan dengan penuh ketulusan.

Keteladanan Nabi Ibrahim AS bis akita pelajari dalam beberapa episode hidupnya Pertama dalam menjaga ketaatan kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim AS hidup di masa Raja Namrud di negeri Kan’an hidup di bumi Ur sebelah selatan Iraq, ditengah penduduknya yang menyembah berhala. Ayahnya yang bernama Azar juga penyembah berhala. Di masa dewasa, Ibrahim mulai mempertanyakan siapa tuhan yang berhak disembah:

۞ وَلَقَدْ اٰتَيْنَآ اِبْرٰهِيْمَ رُشْدَهٗ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهٖ عٰلِمِيْنَ ٥١

Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan kepada Ibrahim petunjuk sebelum (Musa dan Harun) dan Kami telah mengetahui dirinya.(Q.S Al Anbiya 51)

Pertentangan antara Ibrahim dan kaum Kan’an dan Raja Namrud semakin memuncak. Bahkan dengan ayahnya semakin menjadi. Puncaknya adalah Ibrahim meninggalkan Kan’an bersama keluarganya. setelah Ibrahim memenggal semua patung di Kan’an, tinggal patung terbesar yang disisakannya.

قَالُوْٓا ءَاَنْتَ فَعَلْتَ هٰذَا بِاٰلِهَتِنَا يٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۗ ٦٢ قَالَ بَلْ فَعَلَهٗ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا فَسْـَٔلُوْهُمْ اِنْ كَانُوْا يَنْطِقُوْنَ ٦٣ فَرَجَعُوْٓا اِلٰٓى اَنْفُسِهِمْ فَقَالُوْٓا اِنَّكُمْ اَنْتُمُ الظّٰلِمُوْنَ ۙ ٦٤

62.  Mereka bertanya, “Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?” 63.  Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya (patung) besar ini yang melakukannya. Tanyakanlah kepada mereka (patung-patung lainnya) jika mereka dapat berbicara.” 64.  Maka, mereka kembali kepada diri mereka sendiri (mulai sadar) lalu berkata (kepada sesama mereka), “Sesungguhnya kamulah yang menzalimi (diri sendiri).”(Q.S Al Anbiya 62-64)

Kedua, Pelopor Astronomi, bukan Astrologi. Setelah selamat dari upaya pembunuhan kaumnya dan setelah terbebas dari kezhaliman Raja Namrud, Ibrahim As bersama istrinya, Sarah dan saudara sepupunya, Luth As hijrah menuju ke Baitul Maqdis, Palestina (Ash-Shaaffat: 99). Di tengah jalan, di daerah Haran/Mesir Ibrahim bersama keluarganya menetap sementara. Di kota ini Ibrahim a.s. menyinggung dan menentang penyembahan mereka yang menyembah bintang, bulan, dan benda langit lainnya. Penduduk Haran/Mesir percaya kepada Astrologi dan bukan Astronomi. Astrologi adalah ramalan yang didasarkan kepada gerak bumi dan langit. Ramalan ini menjadi bagian dari reduksi terhadap ketaatan kepada Allah SWT.

اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۚ ٧٩ وَحَاۤجَّهٗ قَوْمُهٗ ۗقَالَ اَتُحَاۤجُّوْۤنِّيْ فِى اللّٰهِ وَقَدْ هَدٰىنِۗ وَلَآ اَخَافُ مَا تُشْرِكُوْنَ بِهٖٓ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ رَبِّيْ شَيْـًٔا ۗوَسِعَ رَبِّيْ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۗ اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ ٨٠

79.  Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik 80.  Kaumnya membantah. Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada yang kamu persekutukan dengan-Nya, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?”(Q.S Al-An’am 79-80)

Ketiga, Mengurbankan Yang Paling Dicintainya. Setelah meninggalkan Haran/Mesir, keluarga Ibrahim menetap di Baitul Maqdis/Palestina selama 20 tahun lamanya. Di Baitul Maqdis, Ibrahim As tidak mendapatkan keturunan sehingga istrinya, Sarah, merasa kasihan dan memberikan asisten rumah tangganya pada Ibrahim. Sarah berkata pada Ibrahim, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan aku untuk mendapatkan anak. Masuklah pada budakku ini, semoga Allah memberi rezki anak pada kita”. Setelah itu lahirlah Ismail, tetapi Sarah merasa cemburu berat. Akhirnya, Ibrahim As membawa pergi Hajar dan putranya.

Mereka berjalan kaki menyusuri gurun pasir yang ganas. Hingga sampai di suatu daerah, Gunung di Makkah. Lelaki tua itu menempatkan isteri dan anaknya di lembah yang tidak ditumbuhi satu pun tumbuhan. sebuah lembah yang kering, gersang dan asing, lalu beliau pergi meninggalkan mereka berdua.

Disebutkan dalam riwayat, ketika Ibrahim As akan meninggalkan putranya (ismail) dan istrinya (Hajar) saat itu dalam kondisi menyusui. Ketika Ibrahim meninggalkan keduanya dan memalingkan wajah, Hajar bangkit dan memegang baju Ibrahim. “Wahai Ibrahim, mau pergi ke mana? Engkau meninggalkan kami di sini padahal kami tidak memiliki bekal apa – apa yang mencukupi kebutuhan kami?” Ibrahim tidak menjawab. Hajar semakin penasaran dan terus-menerus memanggil. Ibrahim tidak menjawab. Hajar bertanya, “Apakah Allah yang menyuruhmu seperti ini?” Ibrahim menjawab, “Ya.’ Hajar berkata, “Kalau begitu pergilah, pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kita.”

Di Makkah inilah Hajar dan Ismail tinggal. Selanjutnya dalam sejarah peristiwa ditemukannya Sumur Zam-zam, kesusahan Hajar mencari air dengan berlari-lari kecil dari shofa ke Marwa yang menjadi peristiwa Sai dalam ibadah haji.

Tapi bukan itu puncak pengorbanan Ibrahim dan keluarganya. Puncak pengorbanan itu datang dalam bentuk perintah yang lebih tidak masuk akal lagi dari sebelumnya. Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail. Kita bisa membayangkan, betapa senangnya Ibrahim As memiliki putera yang diidam-idamkannya, putera yang terlahir secara ajaib karena lahir dari rahim nenek yang sudah renta. Betapa senangnya Ibrahim As, apalagi sang putera menjelang remaja, sebagai tunas yang kelak menggantikan misi kenabiannya, keinginanya memiliki anak ia adukan kepada Allah agar kelak risalahnya tidak mati sepeninggalnya. Tapi anak tersebut harus disembelih. Al-Quran mengisahkan secara dramatis:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ١٠٢ فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ ١٠٣ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ ١٠٤ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ١٠٥ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ ١٠٦ وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ ١٠٧ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۖ ١٠٨ سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ١٠٩

102.  Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”103.  Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah),104.  Kami memanggil dia, “Wahai Ibrahim,105.  sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.106.  Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.107.  Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.108.  Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,109.  “Salam sejahtera atas Ibrahim.”(Q.S Ash-Shoffat 102-109)

Tibalah saatnya eksekusi, Ibrahim As menuntun puteranya Ismail As menuju Mina untuk melaksanakan perintah Allah Swt. Tenyata, syaitan tidak senang dengan apa yang dilakukan Ibrahim As beserta puteranya. Dengan berbagai tipu daya dan muslihat Syaitan berupaya menggagalkan rencana Ibrahim As dan puteranya Ismail. Syaitan berupaya menggoda di tiga lokasi yang berbeda. Dengan sigap, Ibrahim As melemparinya dengan batu kerikil sebanyak tujuh kali. Peristiwa inilah yang menjadi bagian dari wajib haji yaitu melempar Jumroh yang berada dikawasan Mina. Lokasi tempat nabi Ismail AS dikurbankan.

Keempat, Buah dari ketaatan kepada ALLAH SWT. Setelah Nabi Ismail beranjak dewasa, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS dan Ismail untuk membangun Ka’bah. Ka’bah dibangun hingga ketinggian 7 hasta. Malaikat Jibril pun turut andil dengan menunjukkan posisi peletakan batu Hajar Aswad. Setelah Ka’bah sudah terbangun, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail melakukan ibadah Haji. Di tanggal 8 Dzulhijah, Malaikat Jibril kembali turun ke bumi dan menyampaikan pesan untuk menyebarkan air zam-zam ke beberapa tempat di sekitar Ka’bah seperti Mina dan Arafah. Hari ini disebut dengan Hari Tarwiyyah atau hari pendistribusian air.

وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ١٢٧

(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(Q.S Al Baqarah 127)

Kisah pengorbanan Ibrahim a.s. dan keluarganya memberikan pelajaran yang sangat dalam kepada kita bahwa pengorbanan akan melahirkan keberkahan. Ibrahim menjadi orang yang paling dicintai Allah, khalilullah, imam, abul anbiya (bapak para nabi), hanif, sebutan yang baik, kekayaan harta yang melimpah ruah, dan banyak lagi. Hanya dengan pengorbananlah kita meraih keberkahan. Dari pengorbanan Ibrahim dan keluarganya, dari lembah yang tandus, kering dan asing, kini Kota Makkah menjadi peradaban dunia dan sekitarnya menjadi pusat ibadah umat manusia sedunia.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-Hamd.

Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah SWT…

Apa yang dikisahkan oleh Nabi Ibrahim dan kelurganya tersebut jelas mengisyaratkan agar anak cucu mereka, agar generasi sesudahnya menjadi pribadi yang taat. Ketaatan dan menegakkan Islam serta konsistensi pada cita-cita luhur adalah jaminan untuk memperoleh kesejahteraan hidup.

Demikian Khotbah Idul Adha yang kami sampaikan ini, semoga kita selalu meneladani Nabi Ibrahim AS dalam urusan ketaatan kita kepada Allah SWT. Semoga bangsa kita menjadi bangsa yang Baldhatun Thayyibatun Warabun Ghafur, tidak diberi azab dan sengsara, amin.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمً. َللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٌ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَلّلَهُمَّ اغْفِرْلِلْمُسِلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَآ أَتِنَآ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَآ عَذَابَ النَّار. سُبْحَانَ رَبكَ رَبّ الْعِزَةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌعَلىَ الْمُرْسَلِيْن وَالحَمْدُ ِللهِ رَبّ ِاْلعآلَمِيْن. وأَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَاكَاتُهُ