YOGYAKARTA – Masjid Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mendadak riuh dengan antusiasme yang luar biasa pada Rabu malam (18/2/2026). Bukan hanya mahasiswa, namun masyarakat dari berbagai kalangan—tua, muda, hingga anak-anak—berbondong-bondong memadati masjid untuk mengikuti Kuliah Kebangsaan bersama mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.
Ada pemandangan menarik yang terekam malam itu; saking antusiasnya, sekelompok anak-anak rela berlari menuju lantai 3 masjid hanya demi menyapa dan melihat lebih dekat sosok Ganjar. Di tengah keberagaman latar belakang jamaah yang hadir, Masjid Walidah Dahlan benar-benar bertransformasi menjadi rumah Allah yang agung dan menyatukan.
Menghargai Perbedaan: “Bukan Sebuah Masalah”
Mengawali ceramahnya, Ganjar Pranowo menyinggung indahnya perbedaan yang terjadi di Indonesia, termasuk perbedaan penentuan awal Ramadan.
“Di mana pun kita berada, mau itu mereka memulai puasa di tanggal 18 atau pun 19, kita harus memahami bahwa setiap perbedaan bukanlah suatu masalah,” ujarnya menyejukkan suasana. Pesan ini selaras dengan semangat Masjid Walidah Dahlan yang malam itu menjadi titik temu bagi seluruh jamaah tanpa memandang sekat organisasi atau kelompok.
Refleksi Keadilan: “Apakah Kita Punya Kesempatan yang Sama?”
Membawa tema besar “Keadilan Sosial sebagai Ruh Peradaban: Perspektif Keislaman dan Kebangsaan,” Ganjar memantik diskusi dengan serangkaian pertanyaan retoris yang mendalam kepada jamaah:
- “Apakah kita dengan yakin bisa sukses dengan mudah?”
- “Atau kita beranggapan bahwa masa depan akan sulit ditaklukkan?”
Ia kemudian mengerucutkan pertanyaan pada akses pendidikan yang menjadi kunci perubahan nasib. “Apakah kita memiliki akses yang sama terhadap pendidikan? Apakah saya memiliki kesempatan yang sama dibanding orang lain?” tanyanya.
Ganjar menegaskan bahwa jarak antara si kaya dan si miskin dalam Sila Kelima Pancasila masih menjadi pekerjaan rumah besar. Baginya, kebijakan publik harus berpihak pada mereka yang kurang beruntung agar mendapatkan hak dan kualitas yang setara.
Inspirasi dari Skripsi Dono “Warkop” hingga Ketegasan Rasulullah
Dalam pemaparannya, Ganjar menyitir temuan menarik dari skripsi pelawak legendaris, Dono Warkop DKI, yang meneliti kaitan antara status ekonomi keluarga dengan prestasi sekolah. Hal ini ia gunakan untuk menekankan bahwa pendidikan tidak boleh diskriminatif.
“Jika saya tidak punya akses ke perguruan tinggi, hari ini saya tidak akan diundang di sini,” ucapnya yang disambut anggukan jamaah.
Ia juga mengingatkan para pemimpin untuk meneladani Rasulullah saw. dalam menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, sembari mengajak jamaah untuk memulai keadilan dari diri sendiri, bahkan jika itu harus merugikan kepentingan pribadi.
Ramadan sebagai Bukti Kedermawanan Bangsa
Menutup Kuliah Kebangsaan, Ganjar meyakini bahwa Indonesia, sebagai negara paling dermawan di dunia, mampu mewujudkan keadilan sosial. Momentum Ramadan di mana orang saling berbagi adalah bukti bahwa Indonesia tidak kekurangan orang baik.
“Keadilan sosial adalah cita-cita yang harus diperjuangkan. Jika kita diam, keadilan itu tidak akan terwujud,” pungkasnya.