Yogyakarta, (12 Mei 2024)- Kami kelompok 8 yang terdiri dari 6 mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta membuat artikel dengan tema “Asal Usul Makhluk Hidup” dimana dalam artikel ini kami membahas mengenai asal usul makhluk hidup dalam perspektif agama islam maupun sains dan teori-teori yang mendukungnya. Artikel ini dibuat untuk memenuhi tugas Ujian Tengah Semester (UTS) dari mata kuliah Islam dan Ipteks yang diampu oleh Ibu Dr. Islamiyatur Rokhmah., S.Ag.,MSI dan lppi.unisayogya.ac.id

Pertanyaan tentang asal usul kehidupan merupakan misteri yang menarik perhatian banyak orang. Bagaimana kehidupan muncul dari benda mati? Dari mana asal mula makhluk hidup pertama di Bumi? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya memiliki makna filosofis, namun juga memiliki implikasi ilmiah yang mendalam. Pertanyaan ini telah melahirkan berbagai teori dan spekulasi, dari yang ilmiah hingga yang religius. Memahami asal usul kehidupan dapat membantu menjawab pertanyaan tentang tempat kita di alam semesta, kemungkinan adanya kehidupan di planet lain, dan bahkan hakikat realitas itu sendiri.
Sebelum manusia diciptakan, Allah terlebih dahulu menciptakan langit dan bumi. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa langit dan bumi diciptakan oleh Allah dalam 6 rangkaian masa hal ini sebagaimana dalam al-Qur’an surat al-Sajadah ayat 4 yang artinya : “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa´at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

A. Asal usul makhluk hidup berdasarkan sains
1.Teori Abiogenesis atau juga disebut generatio spontanea adalah teori yang menyatakan bahwa seluruh makhluk hidup berasal dari benda tak hidup. Aristoteles, seorang ahli filsafat Yunani kuno yang hidup lebih dari 2000 tahun lalu yang pertama kali mengemukakan teori ini.
2. Teori Biogenesis adalah teori yang menyatakan bahwa makhluk hidup hanya berasal dari sesuatu yang hidup. Tokoh yang paling terkenal dalam membuktikan teori ini adalah Franscesco Redi.
3. Teori Evolusi Kimia atau Teori Biologi Modern adalah teori yang menyatakan bahwa adanya kehidupan di muka bumi ini diawali dengan berevolusinya bahan-bahan kimia di bumi. Diantara para ahli yang mengemukakan teori ini adalah seorang ahli biokimia dari Rusia, A. I. Oparin pada tahun 1894, juga Harold Urey pada tahun 1893.
Setelah itu, munculnya teori evolusi dari Charles Darwin. Pada hakikatnya merupakan kelanjutan sahaja dari teori “omne vivum ex vivo”. Menurut Charles Robert Darwin pada tahun 1800–1882 bahwa hewan, tumbuhan, dan juga manusia merupakan hasil perubahan evolusi dari makhluk hidup yang sangat sederhana pada awal kehidupan di bumi, yang secara perlahan-lahan melalui proses penurunan dengan modifikasi yang akhirnya berkembang menjadi spesies organisme di muka bumi ini, termasuk di dalamnya adalah kejadian manusia. Seiring dengan perkembangan dunia ilmu pengetahuan modern, teori Darwin ini lambat laun digugurkan oleh para ilmuwan-ilmuwan modern yang disebabkan karena kegagalan Darwin dalam menjelaskan proses mekanisme transdormasi gen dari DNA kera menjadi manusia.

B. Asal Usul Manusia Menurut Konsep Islam
Sebagai umat Islam yang mengakui dan meyakini rukun iman yang ke-enam, maka sudah sepantasnya kita mengakui bahwa Al Qur’an adalah satu-satunya literatur yang paling benar dan bersifat global bagi ilmu pengetahuan.
“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib…..” (QS. Al Baqarah (2) : 2–3)
Dengan memperhatikan ayat tersebut maka kita seharusnya tidak perlu berkecil hati menghadapi orang-orang yang menyangkal kebenaran keterangan mengenai asal usul manusia. Hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki unsur utama yang dijelaskan dalam Al Qur’an yaitu Iman kepada yang Ghaib. Ini sebenarnya tampak pula dalam pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh mereka dalam menguraikan masalah tersebut yaitu selalu diawali dengan kata kemungkinan, diperkirakan, dan sebagainya. Tahap kejadian manusia:

1. Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam)
Dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :
“Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (QS. As Sajdah (32) : 7)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. (QS. Al Hijr (15) : 26)
Disamping itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalah surat Al Hijr ayat 28 dan 29 .Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda : Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah”. (HR. Bukhari)

2. Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)
Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawanjenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah sati firman-Nya :
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS. Yaasiin (36) : 36)
Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa’ ayat 1 yaitu :

“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak” (QS. An Nisaa’ (4) : 1)
Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan :
“Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam” (HR. BukhariMuslim)

C. Perpaduan Al Qur’an dengan Hasil Penelitian Ilmiah tentang Asal-usul Manusia
Pandangan Islam, Al-Qur‟an (naqal) tidak menggolongkan manusia ke dalam kelompok hewan selama manusia mempergunakan akal dan karunia Tuhan lainnya. Namun bila manusia tidak mempergunakan akal dan berbagai potensi pemberian Tuhan yang sangat tinggi nilainya seperti: pemikiran, kalbu, jiwa, raga, serta panca indera secara baik dan benar, ia akan menurunkan derajatnya sendiri menjadi hewan. Perpaduan antara Al Qur’an dengan hasil penelitian ini maka teori evolusi Darwin ternyata tidak dapat diterima. Penelitian membuktikan bahwa kurun akhir (cenozoikum) adalah masa dimana mulai muncul manusia yang berbudaya dan Allah menciptakan lima kurun sebelumnya lengkap dengan segala isinya adalah untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh manusia. Hal ini dijelaskan oleh Allah di dalam salah satu firman-Nya :
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu” (QS Al Baqarah (2) : 29).

Dalam literatur Antropologi mengatakan bahwa sebelum manusia Homo Sapiens (manusia berbudaya) memang ada makhluk yang mirip dengan manusia yang disebut Pithecanthropus, Sinanthropus, Neanderthal, dan sebagainya yang tentu saja karena mereka tidak berbudaya maka mereka selalu berbuat kerusakan seperti yang dilihat para malaikat. Nama-nama mkhluk yang diungkapkan para ahli antropologi diatas dapat pula ditemui dalam pendapat para ahli mufassirin. Salah satu diantaranya adalah Ibnu Jazir dalam kitab tafsir Ibnu Katsir mengatakan :
“Yang dimaksud dengan makhluk sebelum Adam a.s diciptakan adalah Al Jan yang kerjanya suka berbuat kerusuhan”.
Dengan demikian dari uraian diatas maka dapatlah disimpulkan bahwa Adam a.s adalah manusia pertama, khalifah pertama dan Rasul (nabi) pertama.

Hal ini sesuai dengan firman Allah:
“Dan tidak ada suatu umatpun (manusia) melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan (Nabi)” (QS. Fathir : 24).
Dari uraian diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa Al-Qur’an sebagai sumber ilmu telah menggambarkan bagaimana hakekat kemanusiaan mulai dari asal usul penciptaan manusia, potensi yang diberikan Allah kepada manusia dan tugas serta tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri. Sedangkan Manusia dalam persfektif saintis muslim memperkuat dan membuktikan kesesuaian antara konsep al-Qur’an dan konsep ilmu pengetahuan.