YOGYAKARTA – Perayaan Iduladha 1447 H yang jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026 M menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali makna hakiki dari ibadah kurban. Dalam naskah khutbah Iduladha berjudul "Tiga Falsafah Kurban", Dr. M. Nurdin Zuhdi, S.Th.I., M.S.I., yang merupakan dosen di Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA), memaparkan tiga esensi utama yang terkandung dalam ibadah tahunan umat Islam ini.

Menurut Dr. Nurdin, kurban tidak sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan sebuah pesan mendalam yang menyentuh aspek ketakwaan, sosial, psikologis, hingga kemanusiaan global.

Berikut adalah tiga falsafah kurban yang dipaparkan dalam khutbah tersebut:

1. Keseimbangan Antara Kesalehan Individual dan Kesalehan Sosial

Falsafah pertama menekankan bahwa Islam tidak memisahkan antara hubungan vertikal kepada Allah (habluminallah) dan hubungan horizontal kepada sesama manusia (habluminannas). Perintah ibadah salat Iduladha yang langsung diikuti dengan perintah berkurban dalam Al-Qur'an menjadi bukti konkret kedekatan kedua aspek ini.

"Salat adalah simbol kesalehan individual, sedangkan qurban merupakan manifestasi kesalehan sosial yang menghadirkan manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain," tulis Dr. Nurdin dalam naskahnya.

Melalui ibadah kurban, umat dididik untuk meningkatkan kepedulian, berbagi kasih sayang, dan tidak egois, karena ibadah yang paling dicintai Allah adalah ibadah yang paling luas membawa manfaat bagi kemaslahatan masyarakat.

2. Menyembelih Nafsu Kebinatangan dan Melepaskan Belenggu Kepemilikan

Falsafah kedua menyoroti kurban sebagai media refleksi diri untuk memotong sifat-sifat buruk manusia, seperti kesombongan, kerakusan, egoisme, dan kezaliman yang dianalogikan sebagai nafsu hewani.

Selain itu, peristiwa sejarah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan mengorbankan putra tercintanya, Nabi Ismail AS, menjadi pelajaran berharga tentang ujian keterikatan hati. Di era modern, "Ismail" tersebut dapat berwujud harta, jabatan, kendaraan, atau aset duniawi lainnya. Kurban mendidik umat agar hati tidak diperbudak oleh rasa memiliki, sebab seluruh apa yang ada di dunia ini hanyalah titipan dari Allah SWT.

3. Larangan Mengorbankan Sesama Manusia

Falsafah ketiga menekankan nilai humanisme dalam Islam. Ketika Allah SWT mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor domba besar, peristiwa tersebut membawa pesan simbolis yang sangat kuat: manusia tidak boleh dikorbankan demi ambisi, kekuasaan, atau kepentingan duniawi.

Dr. Nurdin juga menyoroti realitas dunia saat ini yang masih dipenuhi luka kemanusiaan akibat peperangan dan konflik, seperti yang terjadi di Palestina, Lebanon, dan Iran. Ibadah kurban hadir sebagai panggilan global untuk menghormati darah manusia, menjaga kehidupan, serta merawat perdamaian dunia dengan fondasi kasih sayang.

Menuju Indonesia yang Berkah

Sebagai penutup, khutbah tersebut mengajak seluruh umat Muslim untuk memulai penerapan ketakwaan dan nilai-nilai kurban dari lingkup terkecil, yaitu diri sendiri dan keluarga. Melalui tatanan keluarga yang bertakwa, diharapkan akan lahir masyarakat dan bangsa yang bertakwa pula, demi mewujudkan Indonesia sebagai negeri yang aman, makmur, dan penuh berkah (baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur).