YOGYAKARTA – Guru Besar sekaligus tokoh akademisi, Prof. Dra. Siti Syamsiyatun, M.A., Ph.D., menyampaikan orasi ilmiah mengenai konsep “Islam Publik” dan signifikansi peran perempuan dalam menciptakan ruang sosial yang inklusif. Paparan tersebut disampaikan dalam rangkaian agenda salat tarawih berjamaah di Masjid Siti Walidah, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta.

Dalam ceramahnya, Prof. Siti menjelaskan bahwa “Islam Publik” adalah manifestasi ajaran Islam yang mengejawantah dalam perilaku sosial dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Hal ini berbeda dengan dimensi privat yang merupakan hubungan spiritual personal antara individu dengan Tuhan.

“Islam publik itu terlihat dari bagaimana kita berinteraksi, bagaimana kita menjaga ketertiban di ruang bersama seperti masjid, pasar, hingga kantor. Ini adalah tentang perilaku yang nampak dan bermanfaat bagi orang lain,” ujar Prof. Siti.

Tiga Peran Strategis Perempuan Lebih lanjut, beliau menyoroti tiga peran utama perempuan, khususnya melalui gerakan ‘Aisyiyah, dalam membangun peradaban yang berkeadaban:

  1. Pelopor Keadilan Sosial: Prof. Siti merefleksikan sejarah 100 tahun lalu di mana perempuan dan anak-anak seringkali tidak mendapatkan ruang, bahkan untuk mengenyam pendidikan. Hadirnya institusi seperti UNISA menjadi bukti nyata perjuangan memberikan hak pendidikan yang adil.
  2. Penyuluh Literasi dan Pendidikan: Beliau menekankan bahwa tanpa keterlibatan perempuan dalam dialog publik, kebijakan seringkali menjadi bias gender. Beliau mencontohkan desain arsitektur bangunan masa lalu yang tidak ramah ibu hamil atau penyandang disabilitas karena kurangnya sudut pandang perempuan dalam proses perencanaannya.
  3. Penggerak Moderasi dan Inklusivitas: Perempuan dinilai memiliki kepekaan lebih terhadap isu perdamaian dan kemanusiaan. Hal ini didasari oleh pengalaman biologis dan perjuangan berat perempuan dalam mengandung serta membesarkan generasi (reproduksi).

Mendorong Kemitraan dengan Laki-laki Prof. Siti juga menyoroti pentingnya fasilitas publik yang responsif gender. Sebagai contoh, ia memuji fasilitas di Masjid UNISA yang ramah terhadap perempuan, lansia, dan difabel. Ia menjelaskan bahwa pemberian fasilitas lebih—seperti jumlah toilet perempuan yang lebih banyak—bukanlah bentuk ketidakadilan, melainkan pemenuhan kebutuhan biologis perempuan yang memang berbeda dan lebih kompleks dibanding laki-laki.

Menutup ceramahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan laki-laki dan perempuan sebagai mitra (auliya) yang saling mendukung, sesuai dengan pesan Al-Qur’an.

“Peran perempuan akan optimal jika bekerja sama dengan laki-laki. Sebaliknya, laki-laki akan mencapai kebahagiaan sejati ketika mereka mampu bekerja sama dan membahagiakan perempuan, baik itu istri maupun anak-anak mereka,” pungkasnya.

Acara tersebut diakhiri dengan harapan agar ruang sosial masa depan dapat terus bertransformasi menjadi ruang yang adil dan memberikan tempat yang terhormat bagi semua kalangan.