Dalam suasana khidmat di Masjid Walidah Dahlan, Dr. Nur Kholis mengawali tausiyahnya dengan sebuah refleksi historis yang mendalam mengenai kehadiran Al-Qur’an. Beliau menegaskan bahwa firman Allah tidak turun di ruang hampa, melainkan hadir sebagai cahaya di tengah kegelapan sistem sosial jahiliah yang sangat patriarkis. Sejarah mencatat betapa kelamnya nasib perempuan kala itu, di mana mereka dianggap beban ekonomi hingga muncul tradisi keji mengubur anak perempuan hidup-hidup. Islam hadir meruntuhkan tembok diskriminasi tersebut melalui konsep Tauhid, yang dimaknai sebagai kesatuan penciptaan bahwa setiap manusia, tanpa memandang jenis kelamin, memiliki derajat yang sama sebagai hamba Allah.

Melangkah pada esensi ibadah Ramadan, kesetaraan spiritual menjadi poin sentral yang dibahas. Panggilan “Ya ayyuhalladzina amanu” dalam perintah puasa tidak membedakan gender, suku, maupun latar belakang sosial. Semua orang beriman memiliki peluang yang sama untuk mendaki tangga spiritual menuju derajat takwa. Sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Hujurat, kemuliaan di sisi Allah hanya diukur dari kualitas ketakwaan seseorang, yang bersifat fungsional dan personal, bukan berdasarkan hierarki biologis yang kaku.

Namun, Dr. Nur Kholis juga memberikan catatan kritis terhadap perjalanan sejarah pasca-kenabian. Jika pada masa Rasulullah terdapat ratusan ulama perempuan yang menjadi perawi hadis, pada abad-abad berikutnya peran intelektual perempuan perlahan mulai “dirumahkan”. Hal ini berdampak pada munculnya tafsir-tafsir keagamaan yang cenderung bias dan tidak lagi memihak pada hak-hak perempuan. Realitas ini masih membekas hingga saat ini, di mana banyak konflik rumah tangga dipicu oleh pola relasi yang timpang. Tingginya angka gugat cerai saat ini menjadi alarm bahwa model keluarga yang eksploitatif—di mana salah satu pihak menanggung beban domestik sendirian sementara pihak lain abai—sudah tidak relevan lagi dengan tuntutan zaman.

Sebagai penutup yang menggugah, beliau mengibaratkan laki-laki dan perempuan seperti dua sayap burung merpati. Peradaban yang maju tidak akan pernah bisa terbang jika salah satu sayapnya berhenti mengepak atau merasa lebih hebat dari yang lain. Prinsip “Hunna libasul lakum wa antum libasul lahun” harus dihayati sebagai semangat kerja sama untuk saling melindungi, menutupi kekurangan, dan mempercantik kehidupan satu sama lain. Melalui kesadaran akan kekhususan peran masing-masing yang saling melengkapi, diharapkan lahir generasi baru yang mampu membangun keluarga sakinah serta peradaban yang berkeadilan.