YOGYAKARTA – Masjid Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali menyuguhkan perspektif menarik dalam rangkaian Kuliah Ramadan. Kali ini, Prof. Wantonoro, M.Kep., Ns., Sp.Kep.M.B., Ph.D. hadir memberikan paparan mengenai tantangan fisiologis manusia menuju fase lansia, serta bagaimana menyikapinya dengan kacamata iman dan ilmu keperawatan.
Proses Fisiologis: Kepastian yang Tak Terhindarkan
Prof. Wantonoro mengawali tausiyahnya dengan mengajak jamaah merenungi sunatullah kehidupan. Di dunia ini, segala sesuatu diciptakan berpasangan: ada siang dan malam, sehat dan sakit, hingga hidup dan mati. Di antara hal tersebut, terdapat proses fisiologis yang tidak bisa dihindari oleh siapapun, yaitu penuaan.
“Kita mulai dari dilahirkan, anak-anak, dewasa, hingga menjadi lansia. Ini adalah proses alamiah. Angka statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2025, proporsi lansia di Indonesia akan mencapai 12%, dan DIY menempati urutan tertinggi di Indonesia,” jelas Prof. Wantonoro.
Penurunan Kapasitas dan Pentingnya Adaptasi
Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia mengalami proses degeneratif yang berdampak pada penurunan kapasitas fungsional, baik secara fisik (jantung dan paru-paru) maupun kognitif. Dalam perspektif ilmu keperawatan, Prof. Wantonoro merujuk pada Roy Adaptation Model, sebuah teori yang menekankan pentingnya pendampingan agar individu mampu beradaptasi dengan perubahan kondisinya.
Berdasarkan pengalamannya saat melakukan studi di pusat perawatan lansia (nursing home) di Taiwan, ia menemukan bahwa kunci kebahagiaan para lansia bukan terletak pada status sosial masa lalu, melainkan pada penerimaan diri.
Sabar dalam Menerima, Syukur dalam Berikhtiar
Prof. Wantonoro mengontekstualisasikan temuan ilmiah tersebut ke dalam ajaran Islam. Ia merumuskan bahwa kebahagiaan di masa tua dapat dicapai melalui dua pilar utama:
- Sabar sebagai Wujud Penerimaan: Menerima kondisi fisik yang mulai menurun atau adanya penyakit (patologis) sebagai bentuk kesabaran terhadap ketetapan Allah.
- Syukur sebagai Wujud Adaptasi: Melakukan ikhtiar nyata untuk menjaga kesehatan, seperti mengatur pola makan dan gaya hidup, sebagai bentuk syukur atas sisa nikmat yang masih diberikan.
“Menerima kondisi fisik kita adalah bagian dari bersabar, namun tetap berikhtiar melakukan adaptasi adalah cara kita bersyukur. Jika seseorang menolak kenyataan dan tidak mau menjaga kesehatan, maka kondisi mental dan spiritualnya pun akan ikut memburuk,” tegasnya.
Ramadan untuk Ketahanan Fisik dan Spiritual
Menutup ceramahnya, Prof. Wantonoro berharap momentum puasa Ramadan ini dapat menjadi sarana penyucian diri yang paripurna. Secara lahiriah, puasa melatih fisik lebih prima, sementara secara batiniah, ibadah ini membawa ketenangan yang meningkatkan derajat ketakwaan.
“Insyaallah, dengan batin yang tenang, akan muncul kepekaan sosial, empati, dan toleransi yang lebih tinggi di tengah masyarakat. Mari kita terus lakukan hal-hal baik dengan cara yang baik pula,” pungkasnya.