YOGYAKARTA – Suasana Kuliah Ramadan di Masjid Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta terasa istimewa dengan kehadiran Dr. Basyir Ali Al Qunaidy. Ulama yang didatangkan melalui program kerja sama Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini memberikan pencerahan mengenai hakikat doa dan kedekatan Allah SWT kepada hamba-Nya.

Jawaban Atas Keraguan: Allah Itu Dekat

Mengawali ceramahnya, Dr. Basyir merujuk pada latar belakang turunnya ayat tentang doa. Ia mengisahkan seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah SAW apakah Allah itu dekat sehingga cukup berbisik, atau jauh sehingga harus berseru lantang.

Jawaban Allah langsung turun melalui ayat: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.” Syekh menekankan bahwa kedekatan ini harus dimanfaatkan hamba untuk menyampaikan segala hajat, permohonan, hingga keluh kesah tanpa rasa ragu.

Rahasia Kata “Idza” dalam Al-Qur’an

Dr. Basyir membedah sisi keunikan gramatikal bahasa Arab dalam ayat doa tersebut. Ia menjelaskan penggunaan kata “Idza” yang berarti “jika”, namun disifati sebagai sesuatu yang pasti atau wajib terjadi.

“Penggunaan Idza menunjukkan bahwa kegiatan meminta atau berdoa kepada Allah adalah sebuah kepastian dan kewajiban bagi hamba sebagai bentuk perendahan diri (tadallul) di hadapan Sang Pencipta. Berbeda dengan kata ‘In’ yang sifatnya opsional, Idza menegaskan bahwa Allah senantiasa menunggu permintaan hamba-Nya,” jelas Syekh.

Seni Meminta: Memuji Sebelum Memohon

Syekh juga memberikan perumpamaan menarik tentang “seni meminta”. Layaknya seorang anak yang merayu ayahnya dengan pujian sebelum meminta sesuatu, manusia pun hendaknya memperbanyak zikir dan pujian kepada Allah sebelum memanjatkan doa inti.

Ia mencontohkan doa Nabi Yunus AS saat berada dalam tiga kegelapan (malam, laut, dan perut ikan). Kalimat “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin” sejatinya adalah zikir, namun di dalamnya terkandung kekuatan doa yang luar biasa sehingga Allah langsung memberikan jalan keluar.

Doa Adalah Ibadah, Tak Ada yang Ditolak

Satu pesan penting yang ditekankan adalah agar umat Islam tidak berputus asa jika merasa doanya belum dikabulkan. Dr. Basyir menjelaskan bahwa pada hakikatnya, setiap doa yang dipanjatkan sudah bernilai ibadah di sisi Allah.

“Jangan pernah kecewa atau berhenti berdoa hanya karena merasa belum dijawab sesuai keinginan. Bagi Allah, tidak ada doa yang ditolak; bisa jadi dialihkan dalam bentuk solusi lain atau disimpan sebagai kebaikan di akhirat,” tuturnya.

Klasifikasi Hamba: Ibad vs Abid

Dalam penjelasannya, Dr. Basyir membedakan antara istilah “Ibad” dan “Abid”.

  • Ibad: Merujuk khusus pada hamba-hamba yang beriman dan pandai bersyukur (Ubudiyatus Syukur).
  • Abid: Merujuk pada seluruh makhluk yang terikat dalam sistem sunatullah Allah (Ubudiyatul Qahar), baik mereka yang beriman maupun tidak.

Ramadan: Momentum Puncak Mustajabnya Doa

Menutup ceramahnya, Dr. Basyir mengajak seluruh jamaah untuk memaksimalkan ibadah doa, terutama pada sepertiga malam terakhir dan saat-saat menjelang berbuka puasa. Ia juga mendoakan keberkahan bagi keluarga besar Muhammadiyah, khususnya bagi pendiri KH. Ahmad Dahlan dan para kadernya agar senantiasa dalam lindungan Allah SWT.

“Doa adalah jembatan tanpa sekat. Allah tidak membutuhkan perantara untuk mendengar rintihan hamba-Nya. Maka, teruslah mengetuk pintu langit,” pungkasnya.