YOGYAKARTA – Memasuki hari kedelapan Ramadan, Masjid Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menghadirkan Dr. Islamiyatur Rokhmah, S.Ag., M.S.I. dalam rangkaian Kuliah Ramadan. Dalam tausiyahnya, ia membedah fenomena Generasi Sandwich—sebuah kondisi di mana seseorang terhimpit tanggung jawab ganda merawat orang tua sekaligus membesarkan anak—dan bagaimana menyikapinya dalam bingkai keluarga sakinah.
Mengenal Fenomena Generasi Sandwich
Dr. Islamiyatur menjelaskan bahwa generasi ini umumnya berada di rentang usia 25 hingga 50 tahun. Layaknya sebuah sandwich, mereka menjadi lapisan tengah yang menopang orang tua di atas dan anak-anak di bawah.
“Generasi ini harus memiliki ketabahan luar biasa. Di satu sisi ada tanggung jawab mendidik anak, di sisi lain ada orang tua yang mungkin sudah mengalami demensia atau sakit fisik seperti stroke yang membutuhkan biaya serta kesabaran ekstra,” ungkapnya.
Di Indonesia sendiri, tercatat sekitar 71 juta penduduk berada dalam fase ini. Dr. Islamiyatur menekankan bahwa kunci utama dalam melampaui fase berat ini adalah keikhlasan. “Jika kita ikhlas berbakti, insyaallah rezeki akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka (min haitsu la yahtasib),” tambahnya.
Keseimbangan Bakti dan Edukasi dalam Perspektif Al-Qur’an
Merujuk pada nilai-nilai kemuhammadiyahan, Dr. Islamiyatur memaparkan dua ayat Al-Qur’an sebagai penyeimbang bagi generasi sandwich:
- Bakti kepada Orang Tua: Perintah untuk berbuat baik dan larangan mengatakan “ah” atau membantah orang tua, meskipun dalam kondisi sulit.
- Tanggung Jawab terhadap Keturunan: Larangan meninggalkan anak keturunan yang lemah (QS. An-Nisa: 9), baik secara ekonomi, kesehatan, maupun pendidikan.
Ia mengingatkan agar generasi sandwich tidak terjebak dalam rasa kesal ketika orang tua mulai membanding-bandingkan anak. “Terkadang anak yang jauh justru lebih dipuji, sementara yang dekat dan merawat setiap hari kurang diapresiasi. Di sinilah kesabaran kita diuji agar tidak terjadi percekcokan keluarga,” jelasnya.
Strategi Praktis: Komunikasi dan Keterbukaan
Untuk mewujudkan keluarga yang tetap sakinah di tengah himpitan beban ekonomi dan emosional, Dr. Islamiyatur membagikan beberapa strategi konkret:
- Pembagian Peran (Berbagi Tugas): Jangan membebankan perawatan orang tua pada satu orang saja. Kakak dan adik harus berbagi peran, baik dalam bentuk dana maupun tenaga (merawat fisik).
- Manajemen Keuangan dan Keterbukaan: Suami istri harus terbuka dalam mengatur pendanaan untuk kedua belah pihak keluarga. “Jangan ada rahasia. Jika istri membantu orang tuanya, suami juga harus memberikan hak yang sama bagi orang tuanya secara setara dan kompak,” tegasnya.
- Investasi dan Tabungan: Meski sulit, tetap diupayakan untuk menabung sedikit demi sedikit demi masa depan.
Ngaji dan Mengamalkan
Menutup ceramahnya dengan sebuah tembang Jawa, Dr. Islamiyatur mengingatkan jamaah bahwa inti dari “ngaji” bukan sekadar membaca atau menghafal Al-Qur’an dengan cepat, melainkan memahami arti dan mengamalkannya dalam kehidupan nyata.
“Ajaran Muhammadiyah menekankan pada pengamalan. Jika kita membaca ayat tentang bakti, maka amalkan bakti itu. Jika membaca tentang mendidik anak, maka pastikan anak-anak kita tidak menjadi generasi yang lemah,” tutur beliau.