Yogyakarta – Dimulai pada hari ini, Rabu, 21 Januari 2026 bakda shalat dhuhur berjamaah, diselenggarakan Ngaji Kitab At-Tanwir. Kajian perdana ini mengkaji Tafsir Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 1-5. Masjid Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta dipenuhi oleh pegawai UNISA, mahasiswa UNISA dan masyarakat umum ini menyimak tafsir yang disampaikan oleh Ust. Aly Aulia Lc., M.Hum., Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Dalam kajian tersebut, Ust. Aly Aulia membahas tentang surat Al-Baqarah, yang merupakan surat terpanjang dalam Al-Qur’an, terdiri dari 286 ayat. Beliau menjelaskan bahwa surat ini termasuk dalam kategori surat Madaniyah, yang diturunkan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah.
Ust. Aly Aulia menjelaskan bahwa surat Al-Baqarah berisi tentang kisah-kisah Bani Israil dan ajakan untuk mengikuti ajaran Allah SWT. Beliau juga membahas tentang ciri-ciri orang yang bertakwa, yaitu mereka yang yakin pada Al-Qur’an, melakukan shalat, dan berinfaq.
“Al-Baqarah, sapi betina, ada berbagai macam kisah. Bani Israil, kisah-kisah bagaimana sikap orang terhadap ajakan dan seruan. Ada yang mengikuti, ada yang menolak, ada juga yang mengambil, tapi hahikatnya menolak. Menerima seruan namanya orang bertakwa. Yang menolak namanya orang kafir. Tampak menerima, tetapi menolak namanya orang munafik,” jelas Ust. Aly Aulia.
Ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang memiliki keyakinan yang kuat, yakin terhadap Kitabullah, Al-Qur’an. Al-Qur’an Adalah petunjuk yang sempurna. Kedua, mereka yang percaya pada yang ghaib, percaya melampaui matanya. Percaya tidak saja pada yang bersifat indrawi, namun juga emosi. Percaya pada yang ghaib, proses yang belum terlihat hasilnya. Misal pengeluaran dan pemasukan. Pengeluaran kita lebih besar? Kita harus percaya pada faktor X, yaitu pertolongan Allah.
Visi 3 dan 4 adalah visi ke depan, yaitu shalat dan infaq. Shalat sebagai Upaya memanaj waktu kita. Infaq sebagai Upaya memanaj asset kita. Shalat, jangan remehkan shalat lima waktu, shalat tepat waktu, shalat di awal waktu. Dengan mendirikan shalat, kita memastikan aktivitas lainnya. Mendirikan shalat artinya shalat didirikan dengan sempurna. Infaq sebagai memanaj asset. Yang dimiliki harus berputar. Ibarat air, maka air yang mengalir menjadi air yang suci mensucikan. Yadul ulya. Tangannya di atas. Mau berinfaq terhadap hartanya, asetnya, peduli pada sesama.
Kajian ini juga membahas tentang percaya pada hari akhir. “Kita harus yakin bahwa ada hari pembalasan, aktivitas amal yang akan diberi balasan di akhirat. Inilah keyakinan pada akhirat,” tambah Ust. Aly Aulia.
Dengan demikian, kita perlu yakin pada panduan kita, Al-Qur’an, dengan membacanya dan mempelajarinya. Bukan dengan mengelus-elus atau menempelkan begini, kata Ust. Aly dengan menempelkan Al-Qur’an di jidat. Cek out keraguan. Yakinlah “Allah bersama saya”. Upgrade koneksi kita dengan Allah, dengan shalat. Disiplin diri dengan kehidupan. Mau sedekah, infaq dan zakat sesuai dengan kadar dan beratnya. Merekalah orang yang bertakwa, orang yang menang, menang sebenarnya.
Penulis: Sri Lestari Linawati, S.S., M.S.I., Dosen UNISA Yogyakarta