Sebagai upaya memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai peran dan kontribusi Muhammadiyah-‘Aisyiyah dalam kehidupan bermasyarakat, Kelompok KMD B3 Program Studi Psikologi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta melaksanakan project wawancara tokoh dengan Ketua Ranting GTA (Griya Taman Asri) Muhammadiyah-‘Aisyiyah, Sabtu (27/12/2025). Project ini bertujuan menggali biografi, program, perkembangan organisasi, serta kendala dan solusi pengembangan Muhammadiyah-‘Aisyiyah, sekaligus melatih kemampuan komunikasi dan analisis mahasiswa sesuai dengan nilai Islam berkemajuan. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya internalisasi nilai-nilai Kemuhammadiyahan dan Ke-‘Aisyiyahan kepada mahasiswa, khususnya dalam memahami peran tokoh persyarikatan sebagai agen dakwah dan penggerak sosial di masyarakat.
Tokoh yang kami wawancarai adalah Bapak Muhammad Zainuddin. Narasumber menjelaskan bahwa keterlibatannya dalam Muhammadiyah telah dimulai sejak kecil karena beliau lahir dan tumbuh dalam keluarga Muhammadiyah. Ayah beliau merupakan salah satu pendiri Muhammadiyah di Kecamatan Tegalrejo, ketika pengaruh PKI masih kuat di Yogyakarta, bahkan ayah beliau pernah mendapat ancaman oleh PKI karena aktif berdakwah. Perjuangan sang ayah tersebut membekas kuat dan menjadi visi yang diwariskan dalam kehidupan keluarga hingga saat ini.
“Sejak kecil saya sudah dikenalkan Islam dan Muhammadiyah oleh orang tua. Perjuangan ayah saya bukan hanya cerita, tetapi menjadi visi hidup keluarga dari saya kecil sampai saat ini,” ujar narasumber. Pengalaman historis tersebut mencerminkan peran Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang hadir di tengah dinamika sosial dan politik masyarakat, sekaligus menunjukkan keteguhan kader dalam mempertahankan nilai Islam berkemajuan.
Riwayat pendidikan narasumber dimulai dari SD Muhammadiyah Karangwaru, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 6 Yogyakarta dan SMA Negeri 1 Yogyakarta di Wirobrajan. Beliau menempuh pendidikan Sarjana di Jurusan Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada masa perkuliahan, narasumber aktif dalam Pemuda Muhammadiyah dan sempat menjabat sebagai Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 2000-an. Selain itu, beliau juga terlibat sebagai anggota cabang serta ikut dalam penggerak pada masa reformasi. Keterlibatan narasumber dalam Pemuda Muhammadiyah sejak masa perkuliahan menunjukkan bahwa proses kaderisasi tidak terlepas dari pembentukan intelektual dan karakter kepemimpinan yang berlandaskan nilai keislaman.
Dalam perjalanan kariernya, narasumber sempat kurang aktif di Muhammadiyah karena bekerja di Surabaya. Selanjutnya, beliau berkarier sebagai Pegawai Negeri Sipil di bidang Pekerjaan Umum (PU) Bantul hingga pensiun pada tahun 2023. Narasumber juga menempuh pendidikan S2 di bidang Planologi. Sejak tahun 2015, beliau kembali aktif di pimpinan cabang Sleman selama dua periode dan hingga saat ini menjabat sebagai Ketua Ranting GTA Muhammadiyah-‘Aisyiyah, sekaligus mengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) TK ABA. Meski sempat mengalami penurunan aktivitas organisasi karena tuntutan pekerjaan, narasumber tetap menunjukkan komitmen untuk kembali aktif dan berkontribusi di Muhammadiyah setelah memasuki masa yang lebih stabil dalam kariernya.
Narasumber menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki karakter khas yang membedakannya dengan organisasi lain, yakni prinsip “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Muhammadiyah tidak mengenal strata sosial, ikatan keimanan, kepercayaan, karena nilai-nilai yang paling dipegang berupa keikhlasan dan kejujuran. Prinsip tersebut mencerminkan etos keikhlasan dalam berorganisasi, di mana Muhammadiyah dipahami sebagai ladang pengabdian, bukan sarana mencari keuntungan pribadi.
“Tantangan terbesar Muhammadiyah di era modern ini adalah kaderisasi. Banyak anak muda yang belum tertarik karena kurang memahami Muhammadiyah itu sendiri,” ungkapnya.
Tantangan kaderisasi ini juga dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup dan orientasi generasi muda di era modern, sehingga diperlukan pendekatan yang adaptif tanpa meninggalkan nilai dasar Muhammadiyah. Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, Muhammadiyah menyediakan berbagai wadah kaderisasi, salah satunya melalui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Namun, menurut narasumber, pemanfaatan wadah tersebut dikembalikan ke diri masing-masing untuk bisa memanfaatkan privilage yang ada.
Menutup wawancara, narasumber berpesan kepada mahasiswa agar memanfaatkan kesempatan belajar dan berorganisasi selama berada di Yogyakarta.
“Nilai akademik itu penting, tapi akan menjadi nilai tambahan jika dibarengi dengan keaktifan sosial dan organisasi, terlebih di Muhammadiyah. Sudah jauh-jauh ke Yogyakarta, eman-eman kalau tidak dimanfaatkan,” pungkasnya. Pesan tersebut menjadi refleksi bagi mahasiswa agar tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga memanfaatkan masa studi sebagai ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kepedulian sosial melalui Muhammadiyah-‘Aisyiyah. Melalui kegiatan wawancara tokoh ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman faktual mengenai perjalanan dan kiprah Muhammadiyah-‘Aisyiyah, tetapi juga merefleksikan nilai keikhlasan, pengabdian, dan tanggung jawab kader dalam menjawab tantangan zaman

Nama kegiatan: Project Wawancara Tokoh Muhammadiyah–‘Aisyiyah
Dosen Pengampu: Dr.Islamiyatur Rokhmah.,S.Ag.,M.S.I
Mata kuliah: Kemuhammadiyahan dan Ke-‘Aisyiyahan
Narasumber : Bapak Muhammad Zainuddin
Tim Pelaksana (KMD B3):
1. Hanuunnisa Durratunnashihah (2410801090)
2. Zakiah Apriliana Zahroh (2410801091)
3. Kinanthi Wijayani (2410801092)
4. Faradilla (2410801093)
5. Gusti Sayu Ardani (2410801094)
6. Ibnu Fajar Afif Fitrahyansah (2410801095)
7. Nurhasanah Apriliani Zahroh (2410801096)
8. Tafia Luke Hasya (2410801098)
9. Nashifa Afidatul Haura (2410801099)
10. Chiara Kevin Nathania (2410801100)
11. Lisa Widodo Putri (2410801101)